>>> Menggapai Cinta ILAHI

Bersih itu sehat
bersih itu indah
bersih itu sebagian dari iman
bersihnya jasmaniah
dari najis haram dan maksiat
semua mata senang melihat
indahnya akhlak yang didapat
datanglah perasaan memikat
datang pula perasaan cinta


bersihnya rohani
dari sifat iri dan dengki
sombong kikir dan munafik
indahnya akhlak insani
indah dipandang ilahi
datanglah cinta ilahi
kepada hambanya yang bersih
bersih jasmani dan rohani
insya allah tergapai cinta ilahi

#karya : Ainun Jariyah

Selasa, 18 September 2012

Pengaruh Intensitas Cahaya Terhadap Pertumbuhan Kacang Hijau



Hai sahabat blogger !!!
bagaimana kabarnya, gimana hari-hari kalian di sekolah, siap menjalani ujian gak? kyk ane nih klas XII deg-degan ama unas yang menghantui tiap hari. hehehe
tapi gak perlu di pikirlah, toh udah kewajiban kita ikut unas, udah gak bisa di hindari lagi.
oiya sahabat blogger pernah menanam biji kacang hijau sebagai praktek skolah g? atau buat pribadi? terserah apa kata kalian, yang penting sekarang saya mau ngeshare tentang PENGARUH INTENSITAS CAHAYA TERHADAP PERTUMBUHAN TUMBUHAN KACANG HIJAU, di sini saya gak akan memposting secara frontal ( mengisi postingan ini dengan isi makalah) tapi saya akan memberikan kisi-kisinya saja, kalau sahabat blogger pingin tau contoh makalahnya, kalian tinggal download saja di :



pada makalah ini saya membahas tentang ketergantungannya tanaman kacang hijau terhadap cahaya matahari, tukang penjual kecamba ( toge) pasti tau tentang hal ini, karena mereka memanfaatkan kecepatan tumbuha kacang hijau yang akan cepat tinggi apabila tidak menerima sinar matahari, batang tumbuhan kacang hijau akn cepat tinggi apabila tidak mendapat sinar matahari karena hormon auksin yang akan merangsang batang tumbuh cepat.
percobaan di atas saya kelompokkan pada 3 kondisi : 
- tempat terang
- remang- remang
- tempat gelap

sekian deskripsi dari saya  SEMOGA BERMANFAAT

Kamis, 13 September 2012

La Dana dan Kerbaunya

La Dana dan Kerbaunya



La Dana adalah seorang anak petani dari Toraja. Ia sangat terkenal akan kecerdikannya. Kadangkala kecerdikan itu ia gunakan untuk memperdaya orang. Sehingga kecerdikan itu menjadi kelicikan.

Pada suatu hari ia bersama temannya diundang untuk menghadiri pesta kematian. Sudah menjadi kebiasaan di tanah toraja bahwa setiap tamu akan mendapat daging kerbau. La Dana diberi bagian kaki belakang dari kerbau. Sedangkan kawannya menerima hampir seluruh bagian kerbau itu kecuali bagian kaki belakang.

Lalu La Dana mengusulkan pada temannya untuk menggabungkan daging-daging bagian itu dan menukarkannya dengan seekor kerbau hidup. Alasannya adalah mereka dapat memelihara hewan itu sampai gemuk sebelum disembelih. Mereka beruntung karena usulan tersebut diterima oleh tuan rumah.

Seminggu setelah itu La Dana mulai tidak sabar menunggu agar kerbaunya gemuk. Pada suatu hari ia mendatangi rumah temannya, dimana kerbau itu berada, dan berkata "Mari kita potong hewan ini, saya sudah ingin makan dagingnya." Temannya menjawab, "Tunggulah sampai hewan itu agak gemuk." Lalu La Dana mengusulkan, "Sebaiknya kita potong saja bagian saya, dan kamu bisa memelihara hewan itu selanjutnya." Kawannya berpikir, kalau kaki belakang kerbau itu dipotong maka ia akan mati. Lalu kawannya membujuk La Dana agar ia mengurungkan niatnya. Ia menjanjikan La Dana untuk memberinya kaki depan dari kerbau itu.

Seminggu setelah itu La Dana datang lagi dan kembali meminta agar bagiannya dipotong. Sekali lagi kawannya membujuk. Ia dijanjikan bagian badan kerbau itu asal La Dana mau menunda maksudnya. Baru beberapa hari berselang La Dana sudah kembali kerumah temannya. Ia kembali meminta agar hewan itu dipotong.

Kali ini kawannya sudah tidak sabar, dengan marah ia pun berkata, "Kenapa kamu tidak ambil saja kerbau ini sekalian! Dan jangan datang lagi untuk mengganggu saya." La dana pun pulang dengan gembiranya sambil membawa seekor kerbau gemuk.

Hanacaraka

Hanacaraka

Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Hanacaraka
Aksara Jawa
Aksara Jawa.png
Jenis Abugida
Bahasa yang dituturkan Jawa
Masa digunakan sekitar abad ke-16 hingga sekarang
Silsilah
Proto-Canaanite alphabet

Huruf Fenisia
Huruf Assyria
Brāhmī
Pallawa
Aksara Kawi
Hanacaraka
Aksara Jawa

Aksara serumpun Bali
Batak
Baybayin
Buhid
Hanunó'o
Lontara
Sunda Kuno
Rencong
Rejang
Tagbanwa
Baris Unicode U+A980–U+A9DF
ISO 15924 Java.

Hanacaraka atau dikenal dengan nama carakan atau cacarakan (bahasa Sunda) adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Makasar, bahasa Madura[rujukan?], bahasa Melayu[rujukan?] (Pasar), bahasa Sunda, bahasa Bali[rujukan?], dan bahasa Sasak.

Bentuk hanacaraka yang sekarang dipakai (modern) sudah tetap sejak masa Kesultanan Mataram (abad ke-17) tetapi bentuk cetaknya baru muncul pada abad ke-19. Aksara ini adalah modifikasi dari aksara Kawi dan merupakan abugida. Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili dua buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Aksara Na yang mewakili dua huruf, yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". Dengan demikian, terdapat penyingkatan cacah huruf dalam suatu penulisan kata apabila dibandingkan dengan penulisan aksara Latin.


Klasifikasi
Prasasti modern dengan aksara Latin (bahasa Portugis) dan aksara Hanacaraka/Jawa modern (bahasa Jawa). Prasasti dibuat untuk memperingati pemugaran Taman Sari di komplek Kraton Yogyakarta.

Aksara Jawa Hanacaraka termasuk ke dalam kelompok turunan aksara Brahmi, sebagaimana semua aksara Nusantara lainnya. Aksara ini memiliki kedekatan dengan aksara Bali. Aksara Brahmi sendiri merupakan turunan dari aksara Assyiria.
Kelompok aksara

Pada bentuknya yang asli, aksara Jawa Hanacaraka ditulis menggantung (di bawah garis), seperti aksara Hindi. Namun demikian, pengajaran modern sekarang menuliskannya di atas garis.

Aksara hanacaraka Jawa memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf "utama" (aksara murda, ada yang tidak berpasangan), 8 pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf vokal depan), lima aksara rekan dan lima pasangannya, beberapa sandhangan sebagai pengatur vokal, beberapa huruf khusus, beberapa tanda baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (pada).
Huruf dasar (aksara nglegena)

Pada aksara Jawa hanacaraka baku terdapat 20 huruf dasar (aksara nglegena), yang biasa diurutkan menjadi suatu "cerita pendek":
Aksara nglegena
Javanese script - Ha.png
Ha
Javanese script - Na.png
Na
Javanese script - Ca.png
Ca
Javanese script - Ra.png
Ra
Javanese script - Ka.png
Ka
Javanese script - Da.png
Da
Javanese script - Ta.png
Ta
Javanese script - Sa.png
Sa
Javanese script - Wa.png
Wa
Javanese script - La.png
La
Javanese script - Pa.png
Pa
Javanese script - Dha.png
Dha
Javanese script - Ja.png
Ja
Javanese script - Ya.png
Ya
Javanese script - Nya.png
Nya
Javanese script - Ma.png
Ma
Javanese script - Ga.png
Ga
Javanese script - Ba.png
Ba
Javanese script - Tha.png
Tha
Javanese script - Nga.png
Nga
Huruf pasangan (Aksara pasangan)

Pasangan dipakai untuk menekan vokal konsonan di depannya. Sebagai contoh, untuk menuliskan mangan sega (makan nasi) akan diperlukan pasangan untuk "se" agar "n" pada mangan tidak bersuara. Tanpa pasangan "s" tulisan akan terbaca manganasega (makanlah nasi).

Tatacara penulisan Jawa Hanacaraka tidak mengenal spasi, sehingga penggunaan pasangan dapat memperjelas kluster kata.

Berikut ini adalah daftar pasangan:
Aksara pasangan
Pasangan Ha.png
Ha
Pasangan Na.png
Na
Pasangan Ca.png
Ca
Pasangan Ra.png
Ra
Pasangan Ka.png
Ka
Pasangan Da.png
Da
Pasangan Ta.png
Ta
Pasangan Sa.png
Sa
Pasangan Wa.png
Wa
Pasangan La.png
La
Pasangan Pa.png
Pa
Pasangan Dha.png
Dha
Pasangan Ja.png
Ja
Pasangan Ya.png
Ya
Pasangan Nya.png
Nya
Pasangan Ma.png
Ma
Pasangan Ga.png
Ga
Pasangan Ba.png
Ba
Pasangan Tha.png
Tha
Pasangan Nga.png
Nga
Huruf utama (aksara murda)

Pada aksara hanacaraka memiliki bentuk murda (hampir setara dengan huruf kapital) yang seringkali digunakan untuk menuliskan kata-kata yang menunjukkan nama gelar, nama diri, nama geografi, nama lembaga pemerintah, dan nama lembaga berbadan (Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang menunjukkan hal-hal diatas biasanya diawali dengan huruf besar atau kapital. Untuk itulah pada perangkat lunak ini kita gunakan huruf kapital untuk menuliskan aksara murda atau pasangannya)

Berikut ini adalah aksara murda serta pasangan murda:


Aksara murda
Javanese script - Na (M).png
Na murda
Javanese script - Ka (M).png
Ka murda
Javanese script - Ta (M).png
Ta murda
Javanese script - Sa (M).png
Sa murda
Javanese script - Pa (M).png
Pa murda
Javanese script - Nya (M).png
Nya murda
Javanese script - Ga (M).png
Ga murda
Javanese script - Ba (M).png
Ba murda
Pasangan
Pasangan Na (M).png
Na murda
Pasangan Ka (M).png
Ka murda
Pasangan Ta (M).png
Ta murda
Pasangan Sa (M).png
Sa murda
Pasangan Pa (M).png
Pa murda
Pasangan Nya (M).png
Nya murda
Pasangan Ga (M).png
Ga murda
Pasangan Ba (M).png
Ba murda
Huruf Vokal Mandiri (aksara swara)


Aksara swara
Javanese script - A.png
A
Javanese script - E.png
E
Javanese script - I.png
I
Javanese script - O.png
O
Javanese script - U.png
U
Huruf tambahan (aksara rèkan)


Aksara rèkan
Javanese script - Gha.png
Gha
Javanese script - Fa.png
Fa / Va
Javanese script - Kha.png
Kha
Javanese script - Dza.png
Dza
Javanese script - Za.png
Za
Huruf Vokal tidak Mandiri (sandhangan)


Nama Sandhangan Aksara Jawa Keterangan
Wulu
Javanese script - Wulu.png
tanda vokal i
Suku
Javanese script - Suku.png
tanda vokal u
Taling
Javanese script - Taling.png
tanda vokal é
Pepet
Javanese script - Pepet.png
tanda vokal e
Taling Tarung
Javanese script - Taling tarung.png
tanda vokal o
Layar
Javanese script - Layar.png
tanda ganti konsonan r
Wignyan
Javanese script - Wignyan.png
tanda ganti konsonan h
Cecak
Javanese script - Cecak.png
tanda ganti konsonan ng
Pangkon
Javanese script - Pangkon.png
tanda penghilang vokal
Péngkal
Javanese script - Pengkal.png
tanda ganti konsonan ya
Cakra
Javanese script - Cakra.png
tanda ganti konsonan ra
Cakra keret
Javanese script - Cakra keret.png
tanda ganti konsonan re
Tanda-tanda Baca (pratandha)

Pratandha.png
Gaya Penulisan (Style, Gagrag) Aksara Jawa

Berdasarkan Bentuk aksara Penulisan aksara Jawa dibagi menjadi 3 yakni:

Ngetumbar

Aj-ngtmbr.png

Mbata Sarimbag

Aj-bs.png

Mucuk eri



Berdasarkan Daerah Asal Pujangga/Manuskrip, dikenal gaya penulisan aksara Jawa :

Jogjakarta

Aj-jogja.png

Surakarta

Aj-solo.png

Lainnya

Aj-ngtmbr.png
Aturan baku penggunaan hanacaraka

Penggunaan (pengejaan) hanacaraka pertama kali dilokakaryakan pada tahun 1926 untuk menyeragamkan tata cara penulisan menggunakan aksara ini, sejalan dengan makin meningkatnya volume cetakan menggunakan aksara ini, meskipun pada saat yang sama penggunaan huruf arab pegon dan huruf latin bagi teks-teks berbahasa Jawa juga meningkat frekuensinya. Pertemuan pertama ini menghasilkan Wewaton Sriwedari ("Ketetapan Sriwedari"), yang memberi landasan dasar bagi pengejaan tulisan. Nama Sriwedari digunakan karena lokakarya itu berlangsung di Sriwedari, Surakarta. Salah satu perubahan yang penting adalah pengurangan penggunaan taling-tarung bagi bunyi /o/. Alih-alih menuliskan "Ronggawarsita" (bentuk ini banyak dipakai pada naskah-naskah abad ke-19), dengan ejaan baru penulisan menjadi "Ranggawarsita", mengurangi penggunaan taling-tarung.

Modifikasi ejaan baru dilakukan lagi tujuh puluh tahun kemudian, seiring dengan keprihatinan para ahli mengenai turunnya minat generasi baru dalam mempelajari tulisan hanacaraka. Kemudian dikeluarkanlah Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga gubernur (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur) pada tahun 1996 yang berusaha menyelaraskan tata cara penulisan yang diajarkan di sekolah-sekolah di ketiga provinsi tersebut.

Tonggak perubahan lainnya adalah aturan yang dikeluarkan pada Kongres Basa Jawa III, 15-21 Juli 2001 di Yogyakarta. Perubahan yang dihasilkan kongres ini adalah beberapa penyederhanaan penulisan bentuk-bentuk gabungan (kata dasar + imbuhan).
Perubahan Aksara Pallawa ke Aksara-Aksara Nusantara

Perubahan Aksara Pallawa
Perbandingan aksara Jawa dan aksara Bali
Hanacaraka gaya Jawa, aksara-aksara dasar

Hanacaraka gaya Bali, aksara-aksara dasar
Hanacaraka gaya Jawa, aksara-aksara dasar Hanacaraka gaya Bali, aksara-aksara dasar
Penulisan Aksara Jawa dalam Cacarakan Sunda

Cacarakan.png


Ada sedikit perbedaan dalam Cacarakan Sunda dimana aksara "Nya" dituliskan dengan menggunakan aksara "Na" yang mendapat pasangan "Nya". Sedangkan Aksara "Da" dan "Tha" tidak digunakan dalam Cacarakan Sunda. Juga ada penambahan aksara Vokal Mandiri "É" dan "Eu", sandhangan "eu" dan "tolong"
Penggunaan aksara Hanacaraka
Bahasa Jawa dalam huruf Jawa dipakai pada papan nama jalan di Surakarta.

Aksara hanacaraka masih diajarkan di sekolah-sekolah di wilayah berbahasa Jawa sampai sekarang (Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta), sebagai bagian dari muatan lokal dari kelas 3 hingga kelas 5 SD. Walaupun demikian, penggunaannya dalam surat-surat resmi/penting, surat kabar, televisi, media luar ruang, dan sebagainya sangatlah terbatas dan terdesak oleh penggunaan alfabet Latin yang lebih mudah diakses. Beberapa surat kabar dan majalah lokal memiliki kolom menggunakan aksara Jawa. Penguasaan aksara ini dianggap penting untuk mempelajari naskah-naskah lama, tetapi tidak terlihat usaha untuk menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. Usaha-usaha revivalisasi bersifat simbolik dan tidak fungsional, seperti pada penulisan nama jalan atau kampung. Salah satu penghambatnya adalah tidak adanya usaha ke arah pengembangan ortografi/tipografi aksara ini.
Integrasi Hanacaraka ke dalam sistem informasi komputer

Usaha-usaha untuk mengintegrasikan aksara ini ke sistem informasi elektronik telah dilakukan sejak 1983 oleh peneliti dari Universitas Leiden (dipimpin Willem van der Molen). Integrasi ini diperlukan agar setiap anggota aksara Jawa memiliki kode yang khas yang diakui di seluruh dunia.

Jeroen Hellingman mengajukan proposal untuk mendaftarkan aksara ini ke Unicode pada pertengahan tahun 1993 dan Maret 1998. Selanjutnya, Jason Glavy membuat "font" aksara Jawa yang diedarkan secara bebas sejak 2002 dan mengajukan proposal pula ke Unicode. Di Indonesia Yanis cahyono membuat font aksara jawa pada tahun 2001 yang diberi nama aljawi sekaligus software installernya [4],hampir bersamaan disusul Ermawan Pratomo membuat hanacaraka font pada tahun 2001, Teguh Budi Sayoga pada tahun 2004 telah pula membuat suatu font aksara Jawa untuk Windows (disebut "Hanacaraka") berdasarkan ANSI[2]. Matthew Arciniega membuat screen font untuk Mac pada tahun 1992 dan ia namakan "Surakarta". Yang terbaru adalah yang digarap oleh Bayu Kusuma Purwanto (2006), yang dapat diekspor ke dalam html.

Baru sejak awal 2005 dilakukan usaha bertahap yang nyata untuk mengintegrasikan aksara Jawa ke dalam Unicode setelah Michael Everson membuat suatu code table sementara untuk didaftarkan. Kelambatan ini terjadi karena kurangnya dukungan dari masyarakat pengguna aksara ini. Baru semenjak masa ini mulai terhimpun dukungan dari masyarakat pengguna. Aksara Jawa Hanacaraka saat ini telah dirilis dalam Unicode versi 5.2 (tergabung dalam Amandemen 6) yang keluar pada tanggal 1 Oktober 2009. Alokasi Memori Aksara Jawa (Javanese) pada Unicode 5.2.0 adalah di alamat heksadesimal A980 sampai dengan A9DF (desimal: 43392–43487).

Pak Lebai Malang

Pak Lebai Malang



Tersebutlah kisah seorang guru agama yang hidup di tepi sungai disebuah desa di Sumatera Barat. Pada suatu hari, ia mendapat undangan pesta dari dua orang kaya dari desa-desa tetangga. Sayangnya pesta tersebut diadakan pada hari dan waktu yang bersamaan.

Pak Lebai menimang- nimang untung dan rugi dari setiap undangan. Tetapi ia tidak pernah dapat mengambil keputusan dengan cepat. Ia berpikir, kalau ia ke pesta di desa hulu sungai, tuan rumah akan memberinya hadiah dua ekor kepala kerbau. Namun, ia belum begitu kenal dengan tuan rumah tersebut. Menurut berita, masakan orang-orang hulu sungai tidak seenak orang hilir sungai.

Kalau ia pergi ke pesta di hilir sungai, ia akan mendapat hadiah seekor kepala kerbau yang dimasak dengan enak. Ia juga kenal betul dengan tuan rumah tersebut. Tetapi, tuan rumah di hulu sungai akan memberi tamunya tambahan kue-kue. Hingga ia mulai mengayuh perahunya ketempat pestapun ia belum dapat memutuskan pesta mana yang akan dipilih.

Pertama, dikayuh sampannya menuju hulu sungai. Baru tiba ti ditengah perjalanan ia mengubah pikirannya. Ia berbalik mendayung perahunya ke arah hilir. Begitu hampir sampai di desa hilir sungai. Dilihatnya beberapa tamu menuju hulu sungai. Tamu tersebut mengatakan bahwa kerbau yang disembelih disana sangat kurus. Iapun mengubah haluan perahunya menuju hulu sungai. Sesampainya ditepi desa hulu sungai, para tamu sudah beranjak pulang. Pesta disana sudah selesai.

Pak lebai cepat-cepat mengayuh perahunya menuju desa hilir sungai. Sayangnya, disanapun pesta sudah berakhir. Pak Lebai tidak mendapat kepala kerbau yang diinginkannya.

Saat itu ia sangat lapar, ia memutuskan untuk memancing ikan dan berburu. Untuk itu ia membawa bekal nasi. Untuk berburu ia mengajak anjingnya.

Setelah memancing agak lama, kailnya dimakan ikan. Namun kail itu menyangkut di dasar sungai. Pak Lebaipun terjun untuk mengambil ikan tersebut. Sayangnya ikan itu dapat meloloskan diri. Dan anjingnya memakan nasi bekal pak Lebai. Oleh karena kemalangan nasibnya, pak Lebai diberi julukan Lebai Malang.

Raja Parakeet


Raja Parakeet

Tersebutlah kisah, seekor raja burung parakeet hidup beserta rakyatnya di sebuah hutan di Aceh. Hidup mereka damai. Kedamaian tersebut terganggu, karena kehadiran seorang pemburu. Pada suatu hari pemburu tersebut berhasil menaruh perekat di sekitar sangkar-sangkar burung tersebut.

Mereka berusaha melepaskan sayap dan badan dari perekat tersebut. Namun upaya tersebut gagal. Hampir semuanya panik,kecuali si raja parakeet. Ia berkata, "Saudaraku, tenanglah. Ini adalah perekat yang dibuat oleh pemburu. Kalau pemburu itu datang, berpura-puralah mati. Setelah melepaskan perekat, pemburu itu akan memeriksa kita. Kalau ia mendapatkan kita mati, ia akan membuang kita. Tunggulah sampai hitungan ke seratus, sebelum kita bersama-sama terbang kembali.

Keesokan harinya, datanglah pemburu tersebut. Setelah melepaskan perekatnya, ia mengambil hasil tangkapannya. Betapa ia kecewa setelah mengetahui burung-burung tersebut sudah tidak bergerak, disangkanya sudah mati. Namun pemburu tersebut jatuh terpeleset, sehingga membuat burung-burung yang ada ditanah terkejut dan terbang. Hanya raja parakeet yang belum terlepas dari perekat. Iapun ditangkap.

Raja Parakeet meminta pada pemburu itu untuk tidak dibunuh. Sebagai imbalannya ia akan selalu menghibur si pemburu. Hampir tiap hari ia bernyanyi dengan merdunya. Khabar kemerduan suara burung itu terdengar sampai ke telinga sang Raja.

Raja menginginkan burung parakeet tersebut. Sang Raja kemudian menukar burung itu dengan harta-benda yang sangat banyak. Di istana sang Raja, burung parakeet ditaruh didalam sebuah sangkar emas. Setiap hari tersedia makanan yang enak-enak.

Namun burung parakeet tidak bahagia. Ia selalu ingat hutan Aceh tempat tinggalnya. Pada suatu hari ia berpura-pura mati. Sang Raja sangat sedih dan memerintahkan penguburannya dengan upacara kebesaran. Ketika persiapan berlangsung, burung itu diletakkan diluar sangkar. Saat itu ia gunakan untuk terbang mencari kebebasanya. Ia terbang menuju hutan kediamannya. Dimana rakyat burung parakeet setia menunggu kedatangannya